Motor Entry Level : Karbu atau Injeksi ?

Wesss, genderang perang motor Injeksi menyongsong tahun 2012 makin rame ditabuh. AHM sebagai pabrikan terbesar di Indonesia memang tentunya mempunyai peran yang sangat krusial untuk mengangkat trend motor injeksi. Setelah meluncurkan SupraX 125 PGM-FI-nya, walau tidak monceer, tapi tetap serius dengan trus brojolin motor injeksi mulai dari PCX, revoAT, CBR dan terakhir duo helm-in Injeksi.

Yamaha tidak mau ketinggalan, walaupun bukan first mover, tapi soal jualan motor Injeksi termasuk sukses dengan V-Ixionnya. Kini Yamaha tengah siap-siap menelorkan motor injeksi baru yaitu Mio injeksi (cmiiw).

Kebijakan ATPM mbrojolin motor injeksi ini menuai pro kontra. Untuk moge ataupun motor ber-cc di atas 150 cc atau motor kelas premium seperti PCX mungkin tidak akan begitu menimbulkan pro kontra. Tetapi bagaimana dengan motor entry level seperti bebek dan skutik yang notabene merupakan motor rakyat? Apakah kebijakan mbrojolin motor injeksi ini sudah tepat?

Menyorot bengkel-bengkel konvensional yang tentunya belum siap dengan teknologi injeksi memang cukup riskan, bisa jadi usaha mereka perlahan redup dan gulung tikar. Di sisi lain motor injeksi menuntut BBM dengan kualitas tinggi, minimal harus minum pertamax. Apakah masyarakat siap mengkonsumsi pertamax, ntar si mbok sering uring-uringan karena mahalnya pertamax:mrgreen: .  Dua hal ini bisa jadi menjadi masalah tersendiri dengan kebijakan motor injeksi ini. (imho)

Lalu bagaimana dengan issue gombal warming ataupun pencemaran lingkungan ? Naaah, inilah yang sebenarnya mendasari kebijakan FI, karena FI lebih ramah lingkungan, di samping itu perawatan FI sebenarnya lebih praktis dan murah. (cmiiw)

Lalu bagaimana solusinya?

Ada wacana yang berkembang, bahwa kebijakan FI ini cukuplah diterapkan untuk moge atau motor kelas premium atau kelas 150 cc ke atas sebagaimana V-Ixion yang hingga saat ini tidak menimbulkan masalah efek domino. Artinya untuk motor entri level tetap dengan karbu-nya, dengan demikian bengkel-bengkel konvensional akan tetap hidup.

Namun jika kita mencermati, justru motor entri level-lah yang banyak berkeliaran di bumi Nusantara ini. Mungkin 90% motor yang beredar di Nusantara ini merupakan motor entri level (bebek dan skutik). Otomatis, sekitar 90 % roda dua yang beredar tidak atau kurang ramah lingkungan. (imho)

Menurut mang uDien, kebijakan FI ini sudah tepat, tapi harus dibarengi dengan upaya-upaya bagaimana supaya bengkel-bengkel konvensional tetap eksis dan harga BBM jangan sampai mencekik masyarakat kalangan bawah. Artinya selama masa transisi dari karbu ke FI, pemerintah bekerjasama dengan ATPM harus mengadakan edukasi dan sosialisasi yang massive dan intensif. Bengkel-bengkel konvensional harus diraih dengan  memberikan pelatihan-pelatihan tentang teknologi FI, atau bahkan dijadikan mitra kerja ATPM dalam layanan aftersales.

Di samping itu harga BBM (pertamax) ya diturunkan laaaah, mosok mahal dan mahal terusss, kan pengguna premium/bensin tentunya akan semakin berkurang? (imho)

Demikianlah analisis awam-uDien, gimana dengan pendapat bro? (and mohon koreksinya ye kalau ada salah kate …:mrgreen: )

26 responses to “Motor Entry Level : Karbu atau Injeksi ?

  1. Dasarnya dari mana injeksi minimal pake pertamax ?
    bukannya mobil2 yg notabene dari tahun 1991 sudah injeksi…pada pake premium ? …lihat mobil2 skrg yg sudah all injeksi hampir sebagian besar pake premium …sebut saja mobil2 sejuta umat ….avanza xenia jazz vios yaris ..semuanya pake premium tuh …. dan nga ada masalah sampai sekarang …bahkan pemerintah yg mau mrk semua mobil pake pertamax dan melobi atpm2 roda 4 agar spec mesinnya pake bensin pertamax….

    • di sini kan menuntut BBM dengan kualitas tinggi, minimal pertamax, tapi kalau memang bisa premium atau bensin, why not? mangkanya mohon koreksi kalau ada salah kate …. thanks masukannya …

      • Setau saya kang Udin, Pertamax ‘wajib’ untuk mobil/motor yg dilengkapi dengan catalytic converter(CC), karena pertamax bebas timbal. Timbal mengurangi kemampuan katalis di CC untuk mengubah karbon monoksida (CO), nitrogen oksida(NO), dan sisa hidrokarbon(HC) menjadi CO2 dan air karena timbal menempel di dinding CC. Soal oktan bensin yang dipakai tergantung dari kompresi dan derajat pengapian, untuk mencegah knocking. Contoh knocking paling gampang kalo denger taksi vios lagi ngebut, sesaat denger bunyi ‘tokotokok’. Jadi tinggal mengikuti buku manual saja.

        CMIIW

      • Premium juga sudah bebas timbal kok, buktinya ujung knalpot sudah nggak putih seperti saat premium masih pakai timbal. Tinggal pertamina bisa dipercaya nggak utk menyediakan premium yg bersih.

  2. nurut ane kalau entry level mending karbu… kan nggak tiap daerah BeRes bisa cek injeksi…

    • perkembangan teknologi tidak bisa dibendung, mau jalan di tempat atau maju sama konsekuensinya, mending mengikuti jaman dengan terus berbenah diri …. nah, dalam hal ini akselerasi pemerataan skiill yang diperlukan … khususnya oleh ATPM hingga ke pelosok daerah … (imho)

  3. menurt ane emang udah saatnya eranya berganti,,
    Kalo susah buat diseting,, ga juga, kalo udah punya toolsnya, injeksi lebih mudah diseting malah lebih presisi daripada stingan motor karbu,, buat bengkel konvensional, yaa mau ga mau harus ngikutin, tapi kalo cuma servis harian injeksi malah jauh lebih simpel,, ga usah bongkar2 karbu seperti kebiasaan aneh bengkel disini,,,
    Buat konsumsi BBM, injeksi emang lebih sensitif kalo kualitas BBMnya jelek, untuk kualitas BBM di Indonesia sendiri, udah bagus tuh, kecuali buat yang hobi ngisi eceran, kudu lebih waspada,,

  4. Bungkus satu bang, nggak pake sambel:mrgreen:

  5. Oktan hubungannya dgn kompresi, bukan dgn injeksi. Asal bersih, premium nggak ada masalah dgn injeksi. Hanya saja pernah beberapa waktu premium dibuat kotor shg ratusan mobil injeksi pompanya jebol.

  6. Menurut saya kalau harga sudah beda tifis karena ongkos produksi yang sudah bisa ditekan justru entry alevel harus injeksi. Motor inilah penyumbang polusi dan peminum bensin terbanyak karena memang motor sejuta umat. Justru motor high end yang jumlahnya hanya 10% tidak banyak menyumbang polusi dan tidak banyak pula minum bensin. Ditambah lagi banyak pemilik motor high en yang tidak menggunakan motornya untuk berkomuter.

  7. Bang, edukasi buat bengkel konvensional itu ya kalo populasi motor injeksi banyak!
    Masih pada ragu ama kreatifnya org Indon? Timbang modul2an begitu mah kalo udah di depan muka mau dibikin bakwan juga jadi.. Cuma ya itu, jangan ditakut2in.
    Saya jg bengkel kakilima. Tapi bengkel mobil. Awalnya emang phobia banget sama injection. Tapi kalo dikit2 dirujuk ke bengkel resmi, anak bini kebagian apa! Sedikit eksplor, buka wawasan dan pergaulan. Sekarang saya turun mesin Xeniavanza tanpa diagnostic tools. Ke bengkel resmi cuma uji emisi.
    buat para montir, injeksi itu biasa aja kaleeee…….

  8. Mo awet yaa pake yg sekelas pertamax.. Tapi kalo niat jual lagi premium ya gpp.. biar yg pusing tuh peminang rondo…xixixi

  9. Menurut sayah,, mungkin di tempat spt sy tinggal,, Injeksi sprtinya kurang diminati.. Yo itu tadi.. Udah mikir le ngrawat… Buat bengkel pinggir jalan di sini,, mungkin tttp kena pengaruh tp mgkin ga besar.. Lha motor jadoel astrea 800/star/prima/supercub, yamaha alfa/force one/v75/rx special/ gl cepek/suzuki bravo/tornado ajah masuk banyak sruntulan,, eh seliweran..

  10. @ ALL
    Makasih atas segala share komentarnya,
    mang uDien sebagai orang awam otomotif sedikit-sedikit tercerahkan
    semoga bermanfaat untuk kita semua …

  11. begitulah, penerapan total injeksi harus diimbangi dg faktor pendukungnya. utk bahan bakar, yg pling msh bisa mengakomodir pemakaian premium, smpe pertamax terjangkau kau..

  12. injeksi ga mesti pake pertamax kq, kl harus pake pertamax ya ga bakalan laku. Di tempatku dikota pinggiran 99% yg punya vixion beli premium lho. Pada ga mampu gan beli pertamax yg harganya 2x lipat.

  13. utk mobil injeksi biasanya fuel pump bertahan skitar 3-4 th kl diisi premium terus, mobil ane peugeot 206 8 tahun dah ganti fuel pump 2x gw minumin premium terus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s