“Ngebut” Tidak Identik dengan Boros dan Kebut-kebutan … Pengen Tau Alasannya ?

Pemerintah memberlakukan batas kecepatan berkendara tentunya mempunyai maksud yang baik, yaitu untuk mengurangi angka kecelakaan. Tapi bagaimana jika pelanggar batas kecepatan itu mencapai hampir setengah jumlah pengendara? Apa gak refoooot ?

Batas kecepatan di Inggris saat jalur padat (pic dari otomotif.Kompas.com)

Itulah yang terjadi di Inggris, 49 persen pengendara (motor maupun mobil) selalu melanggar batas kecepatan yang telah ditentukan yaitu 70 mph (112 kpj). Tapi yang bikin aneh, dengan banyaknya pelanggaran ini justru batas kecepatan malah dinaikkan jadi 80 mph (128 kpj). Lho, kenapa ….  euy? Biar jelas urusannya, mari kita simak penuturan Menteri Transportasi Inggris Philip Hammond : ____________________________________________ “Saya mau memastikan batas kecepatan jalan raya kami (Inggris) mencerminkan kondisi kemajuan kendaraan modern masa kini, bukan kondisi yang sama seperti 50 tahun lalu. Meski demikian, kami harus memastikan bahwa jalan raya di Inggris paling aman di seluruh dunia,” beber Hammond.

Hammond melanjutkan, kecepatan bukan satu-satunya penyebab kecelakaan di jalan. Bahkan, peningkatan infrastruktur kota dan daerah, seperti jalan tol, jembatan, dan underpass mampu menekan angka kecelakaan di jalan sampai 75 persen.

“Bayangkan, kendaraan niaga, pikap, van, dan sepeda motor bisa menghemat pengeluaran karena bisa ke lokasi lebih cepat. Hal ini berkaitan langsung dengan sisi ekonomi karena lebih singkat waktu jarak tempuh, maka bisnis bisa lebih cepat berputar,” tutup Hammond.

(Otomotif.Kompas.com)_________________________________

Naagh, dari uraian di atas semoga kita faham bahwa:

  • “Ngebut” tidak identik dengan boros. Memang secara BBM bisa jadi lebih boros, tapi secara waktu lebih hemat, sehingga mobilisasi ekonomi akan lebih cepat, “the time is money” kata mereka …
  • “Ngebut” tidak identik dengan kebut-kebutan. Tentu yang dimaksud “Ngebut” disini dibarengi dengan infrastruktur yang mendukung, serta skill riding dan pengetahuan safety riding yang memadai. Berbeda dengan “Kebut-kebutan”, yaitu perilaku ugal-ugalan/jor-joran dengan mengabaikan faktor-faktor di atas, dan perilaku ini lebih kepada mencari kesenangan bukan karena suatu urusan yang urgen.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Hmmm … jangan dulu ngomong tentang “kebut” di jalan (kalau di sirkuit sih silakan), apalagi penambahan angka batas kecepatan. Kenapa?

  • Secara infrastruktur masih acak adut dan amburadul.
  • Skill riding pengendara yang masih perlu ditingkatkan, serta pengetahuan dan aplikasi safety riding yang masih minim, ditambah perilaku sruntulan dan kebut-kebutan yang sudah menjadi kebiasaan sebagian (besar?) pengendara.

Iklan

16 responses to ““Ngebut” Tidak Identik dengan Boros dan Kebut-kebutan … Pengen Tau Alasannya ?

  1. Ngebut tp ga boros?maen PS atuh…

    Its about safety riding…
    http://motordohc.wordpress.com

  2. Satuju 100% kang Udin, Dengan terbiasa mobilisasi yang cepat, roda perekonomian secara nasional bisa bergerak tambah cepat juga tuh.
    Itu idealnya lho, kalau di Jakarta sih mending gak usah cepat2, taruhannya nyawa kl ngebut di jalan 😀

  3. setuju2. Titip absen kang.

  4. ane sekarang lagi di Batam… Jalanan disini, jarang ada yang bolong,jarang tukang tambal ban, ga banyak lampu merah,macet…?say no!… Hampir ga pernah ada macet diBatam,
    lari 80km on speedo, terasa pelan kang, karna jalannya yang lurus n mulus…., 100kpj aja masi rasa ga lari,
    maklum sepi, jadi banyak yg ngebut,tp bukan kebut2an
    Oia, di Batam juga jarang ada motor, di sini lebih mudah n murah, beli mobil ex singapura, nanti kalo udah aga damai ane bikin artikel dah…

  5. syarat dan ketentuan berlaku

  6. Emang di Indo ngebut di tilang? Kayaknya walaupun di Tol ada tanda kecepatan maksimum 100Km/Jam or 80Km/Jam, mo jalan lebih dari itu juga kagak ngaruh deh. (itu juga kalo kagak kejebak macet duluan).

    Buat indo, kondisi malah sebaliknya. Batas minimum kecepatan mobil di Tol kan 60Km/Jam, tapi kenyataannya? Truk-truk siput itu bisa-bisanya cuek jalan di Tol dengan kecepatan di bawah 60Km/Jam. Nah kondisi-kondisi seperti ini nih yang musti di tegakan. Hampir semua truk di Indo itu jalan dengan kondisi kelebihan beban, jadi bisa jalan aja udah bagus (boro-boro mo sampai 60Km/jam). Belom efek ngerusak jalan.

    Jadi peningkatan pembatasan kecepatan maksimum di Indo mah nanti dulu, mendingan pastiin dulu batas kecepatan bawah di tol di laksanakan dengan bener.

  7. Lebih seneng dengan ungkapan “Kencang”/”Kenceng” (bahasa sehari-hari) daripada “Ngebut”. Memang sih kata ngebut-nya pake tanda petik tapi karna kata “kebut-kebutan” masih satu kata dengan “Ngebut” jadi kita harus ngartikannya lain.
    Jadi menurutku lebih sreg “Kenceng tidak identik dengan kebut-kebutan”.

    Maap ini ngga penting banget, cuma mau numpahin uneg-unegku aja kok. Sebab komen ini (“Kenceng tidak identik dengan kebut-kebutan”) ngga pernah ditumpahin kalo pas lagi bahas masalah top speed ataupun masalah sruntulan di warung-warung R2.
    peace yak…. :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s